“Halo bro, gimana kabar mu ?”, seorang sahabat yang baru aku jumpai di proyek menyapa, Hang namanya.
Pada jam istirahat kerja
saya dan rekan kerja yang lain menuju warung makan Ling Mei. Ling Mei seorang
perempuan dengan keturunan dari suku Tiong Hoa Indonesia. Warung kak Mei
(sebutan akrab untuk Ling Mei) memang salah satu tempat favorit kami untuk
mengisi sela waktu istirahat siang. Dilokasi ini juga banyak orang dari
berbagai suku bangsa dan warga Negara asing berbelanja. Mungkin karena Mei
sangat lihai dalam berkomunikasi dengan pengunjungnya dan sangat lancar
berbahasa Mandarin.
“Eh bro, udah makan kau ?”
sahut ku dengan logat Batak Mandailing yang ku bawa.
“Ini, saya mau pesan sama
Mei, katanya belum ada yang matang panggangannya” raut muka Hang yang sedang
kelaparan.
“Kak Mei, aku pesan jus
jeruk hangat satu ya” aku meminta kepada warung Mei.
“Lho sabar sedikit Hang ya,
bukan oe tidak mau cepat, ini lagi padat pelanggan di warung lho” logat khas
Tiong Hoa keluar dari mulut Kak Mei.
“Ku tunggu pun, lagian kawan
ku yang mau traktir sudah datang, iya kan bro” si Hang menatap ku dengan penuh
keyakinan.
“Loh kok jadi aku yang kau
tumbalkan Hang, enak kali la kau ya” celutukku dengan sedikit kaget.
Tidak lama setelah itu jus
jeruk hangat yang saya pesan dari warung kak Mei datang. Langsung saya seruput
dengan sedotan yang sudah tersedia. Rasa dahaga ketika dibawah terik matahari
sedikit terobati tetapi masi dilanda rasa lapar yang cukup menekan diri.
Warung Kak Mei ini memang
sederhana, bukan suatu yang sangat mewah. Dengan dinding dari papan dan dengan
tempat duduk sederhana tidak membuat Kak Mei malu bersaing dengan warung yang
lain. Yang menjadi daya tarik dari warung kak Mei ini, si pelanggan atau orang
yang datang makan ke warung bisa langsung memilih atau mengambil daging yang
akan dia bakar sebagai lauk makan. Tersedia daging ayam, kambing, lembu, kadang
rusa kalau lagi ada, dan daging babi.
Kak Mei sangat menghargai
kami, dia menyediakan panggangan khusus yang tidak bercampur baur denganbekas
panggangan daging Babi. Biasanya ada penanda atau tulisan di belakang panggangan
“Khusus Panggangan Muslim”. Mungkin ini salah satu cara marketing kak Mei untuk
menggait yang beragama muslim.
“kak Mei, ada ga daging
rusa, kalau ada saya mau la kak” pekerja yang datang makan siang itu menanyakan
kak Mei.
“Aduh, kita punya daging
rusa lagi kosong lhooo, kamu datang lain hari saja” kak mei menjawab dengan
tegas.
Daging rusa ini memang salah
satu yang menjadi favorit di warung makan kak Mei. Banyak pekerja yang datang
seslalu menanyakan daging tersebut. Orang yang datang tidak peduli lagi dengan
harga daging yang begitu mahal melainkan hanya mengejar kenikmatan makan daging
rusa di warung kak Mei.
“Kenapa ya belakangan ini
cuaca panas sekali” aku mulai memancing pembicaraan waktu makan siang itu.
“Mungkin karena bentar lagi
kita sudah mau pesta rakyat memilih orang nomor satu” jawab Martin yang
berkebetulan makan siang disitu.
“Kau lah memang tin, sengaja
kau kaitkan dengan hal seperti itu, kita sedang membicarakan tentang cuaca
proyek kau malah sambung ke politik” ledekku dengan meniru logat Flores Martin.
Kami pun tertawa dengan
sedikit lelucon yang aku buat pada siang hari itu. Dan secara tidak sadar
pegawai kak Mei datang menyuguhkan nasi untuk kami makan di siang itu. Kepulan asap
dari panggangan dan asap rokok yang ada di warung tersebut sangat nampa bahwa
sebagian besar dari pengunjung yang datang ke warung kak Mei adalah laki –
laki.
“Kak mintak nasi tambah la
aku, tadi pagi aku ga sarapan”, Hang meminta tambahan nasi.
“Bah, knapa kau tak sarapan,
jangan bilang karena pengaruh kemarau panjang di sisni, atau karena mau
pemilihan orang nomor satu itu” aku menyahut dengan spontan.
“Bukan bro, aku memang buru –
buru tadi mau menyelesaikan tugasku di lapangan, kau kan tau kalau ga selesai
tugas bagaimana disini, semua merembes ke segala lini” sambung Hang dengan
yakinnya.
Aku pun balas dengan
senyuman, sambil minum jus jeruk hangat buatan kak Mei.
12:30 pm, panggangan pilihan
kami pun datang ke meja, pada saat itu mungkin ada selera yang sama. Sebagin besar
kami meminta kepada kak Mei untuk menghidangkan daging ayam. Baik aku, Martin,
dan Hang sama – sama memesan daging ayam.
“Kita punya selera sama hari
ini bro” si martin dengan terkejutnya melihat pesanan kami.
“Itulah tin, tekadang selera
kita sama, jadi jangan kau sering marah – marah sama ku” Hang dengan percakapan
tidak nyambungnya.
“Apalah hubungan selera yang
sama dengen marah bro, udah lah ga usah ngomong dulu kita makan dulu hidangan
kak Mei yang nomor satu di lokasi proyek ini” aku menjawab mereka berdua.
Kami pun makan dengan
lahapnya kurang lebih, kami terhenti bercerita selama 15 menit. Saking fokusnya
menikmati hidangan dari warung kak Mei ini. Hang memulai dengan sangat lahap,
sementara Martin makan siang dengan perlahan tapi pasti dan aku makan sambil
memperhatikan mereka berdua.
No comments:
Post a Comment