Sunday, 2 September 2018

CERITA DI WARUNG MAKAN LING MEI




“Halo bro, gimana kabar mu ?”, seorang sahabat yang baru aku jumpai di proyek menyapa, Hang namanya.

Pada jam istirahat kerja saya dan rekan kerja yang lain menuju warung makan Ling Mei. Ling Mei seorang perempuan dengan keturunan dari suku Tiong Hoa Indonesia. Warung kak Mei (sebutan akrab untuk Ling Mei) memang salah satu tempat favorit kami untuk mengisi sela waktu istirahat siang. Dilokasi ini juga banyak orang dari berbagai suku bangsa dan warga Negara asing berbelanja. Mungkin karena Mei sangat lihai dalam berkomunikasi dengan pengunjungnya dan sangat lancar berbahasa Mandarin.

“Eh bro, udah makan kau ?” sahut ku dengan logat Batak Mandailing yang ku bawa.

“Ini, saya mau pesan sama Mei, katanya belum ada yang matang panggangannya” raut muka Hang yang sedang kelaparan.

“Kak Mei, aku pesan jus jeruk hangat satu ya” aku meminta kepada warung Mei.

“Lho sabar sedikit Hang ya, bukan oe tidak mau cepat, ini lagi padat pelanggan di warung lho” logat khas Tiong Hoa keluar dari mulut Kak Mei.

“Ku tunggu pun, lagian kawan ku yang mau traktir sudah datang, iya kan bro” si Hang menatap ku dengan penuh keyakinan.

“Loh kok jadi aku yang kau tumbalkan Hang, enak kali la kau ya” celutukku dengan sedikit kaget.

Tidak lama setelah itu jus jeruk hangat yang saya pesan dari warung kak Mei datang. Langsung saya seruput dengan sedotan yang sudah tersedia. Rasa dahaga ketika dibawah terik matahari sedikit terobati tetapi masi dilanda rasa lapar yang cukup menekan diri.

Warung Kak Mei ini memang sederhana, bukan suatu yang sangat mewah. Dengan dinding dari papan dan dengan tempat duduk sederhana tidak membuat Kak Mei malu bersaing dengan warung yang lain. Yang menjadi daya tarik dari warung kak Mei ini, si pelanggan atau orang yang datang makan ke warung bisa langsung memilih atau mengambil daging yang akan dia bakar sebagai lauk makan. Tersedia daging ayam, kambing, lembu, kadang rusa kalau lagi ada, dan daging babi.

Kak Mei sangat menghargai kami, dia menyediakan panggangan khusus yang tidak bercampur baur denganbekas panggangan daging Babi. Biasanya ada penanda atau tulisan di belakang panggangan “Khusus Panggangan Muslim”. Mungkin ini salah satu cara marketing kak Mei untuk menggait yang beragama muslim.

“kak Mei, ada ga daging rusa, kalau ada saya mau la kak” pekerja yang datang makan siang itu menanyakan kak Mei.

“Aduh, kita punya daging rusa lagi kosong lhooo, kamu datang lain hari saja” kak mei menjawab dengan tegas.

Daging rusa ini memang salah satu yang menjadi favorit di warung makan kak Mei. Banyak pekerja yang datang seslalu menanyakan daging tersebut. Orang yang datang tidak peduli lagi dengan harga daging yang begitu mahal melainkan hanya mengejar kenikmatan makan daging rusa di warung kak Mei.

“Kenapa ya belakangan ini cuaca panas sekali” aku mulai memancing pembicaraan waktu makan siang itu.

“Mungkin karena bentar lagi kita sudah mau pesta rakyat memilih orang nomor satu” jawab Martin yang berkebetulan makan siang disitu.

“Kau lah memang tin, sengaja kau kaitkan dengan hal seperti itu, kita sedang membicarakan tentang cuaca proyek kau malah sambung ke politik” ledekku dengan meniru logat Flores Martin.

Kami pun tertawa dengan sedikit lelucon yang aku buat pada siang hari itu. Dan secara tidak sadar pegawai kak Mei datang menyuguhkan nasi untuk kami makan di siang itu. Kepulan asap dari panggangan dan asap rokok yang ada di warung tersebut sangat nampa bahwa sebagian besar dari pengunjung yang datang ke warung kak Mei adalah laki – laki.

“Kak mintak nasi tambah la aku, tadi pagi aku ga sarapan”, Hang meminta tambahan nasi.

“Bah, knapa kau tak sarapan, jangan bilang karena pengaruh kemarau panjang di sisni, atau karena mau pemilihan orang nomor satu itu” aku menyahut dengan spontan.

“Bukan bro, aku memang buru – buru tadi mau menyelesaikan tugasku di lapangan, kau kan tau kalau ga selesai tugas bagaimana disini, semua merembes ke segala lini” sambung Hang dengan yakinnya.

Aku pun balas dengan senyuman, sambil minum jus jeruk hangat buatan kak Mei.

12:30 pm, panggangan pilihan kami pun datang ke meja, pada saat itu mungkin ada selera yang sama. Sebagin besar kami meminta kepada kak Mei untuk menghidangkan daging ayam. Baik aku, Martin, dan Hang sama – sama memesan daging ayam.

“Kita punya selera sama hari ini bro” si martin dengan terkejutnya melihat pesanan kami.

“Itulah tin, tekadang selera kita sama, jadi jangan kau sering marah – marah sama ku” Hang dengan percakapan tidak nyambungnya.

“Apalah hubungan selera yang sama dengen marah bro, udah lah ga usah ngomong dulu kita makan dulu hidangan kak Mei yang nomor satu di lokasi proyek ini” aku menjawab mereka berdua.

Kami pun makan dengan lahapnya kurang lebih, kami terhenti bercerita selama 15 menit. Saking fokusnya menikmati hidangan dari warung kak Mei ini. Hang memulai dengan sangat lahap, sementara Martin makan siang dengan perlahan tapi pasti dan aku makan sambil memperhatikan mereka berdua.

No comments:

Post a Comment

RECENT PUBLISHED

BAYANGAN

Berjalan di gang sempit Tatapan mata yang kosong diantara jalan yang terhimpit Terasa Sakit Di ikuti bayangan yang rumit Rumit .....

Popular Feed

Recent Story

Translate

Back To Top