![]() |
Sumber gambar medan.panduanwisata.id
|
Etnis
Tionghoa diketahui sudah sejak lama memasuki kota medan. Pada abad ke-14 atau
sekitar tahun 1400 etnis Tionghoa sudah ada di kota Medan. Inilah salah satu
alasan kenapa mereka tak lepas dari keragaman etnis yang ada di Medan.
Pada
akhir zaman emasnya perkebunan di Sumatera Utara terdapat 35 persen komunitas
etnis Tionghoa di tanah Deli. Namun seiring dengan meluasnya penanaman dan
kebutuhan tenaga kerja di datangkanlah tenaga kerja
tambahan dari negara jiran kota Penang yang pada dulunya dikenal sebagai bandar
besar jual beli buruh kontrakan dari Guangzhou dan XiaMen. Pada umumnya kuli
kontrakan Tionghoa ini berasal dari sisi pesisir selatan.
Indonesia yang
dijajah oleh Belanda merupakan salah satu masuknya etnis Tionghoa ke Medan.
Dikarenakan pada zaman dahulu harga kuli kontrakan tergolong sangat mahal dan
sangat jauh, maka Belanda berinisiatif memboyong dan membawa buruh Cina masuk
ke Medan karena upahnya yang sangat murah. Peradaban Tionghoa di Medan dapat kita lihat
melalui peninggalan – peninggalan bersejarah mereka seperti
klenteng-klenteng tertua yang ada di kota Medan Marelan.
Gelombang
kedua terjadi pada tahun 1800-an, semakin berkembangnya perkebunan yang
dikembangkan oleh Belanda semakin banyak juga pekerja yang mereka datangkan
dari luar. Pihak Belanda merasa tidak cocok dengan para pekerja pribumi
sehingga memaksa para pengusaha perkebunan juga mendatangkan para pekerja Tionghoa.
Pada tahun 1870 perusahaan perkebunan tembakau Deli Maatcchappiji kembali
mendatangkan tenaga buruh asing Cina dari Singapura sebanyak 4.000. Pada antara
tahun 1888 sampai 1931 ada 305.000 tenaga kerja asing Cina dari Singapura dan
pulau Jawa. Pada akhirnya para Tionghoa ini memilih untuk melepaskan diri dari
perkebunan dan memilih untuk menjadi pedagang di pedesaan, nelayan dan
lain-lain.
Pada
waktu itu telah banyak penduduk Tionghoa yang telah diakui menjadi pemuka – pemuka golongan yang oleh
pemerintah Hindia Belanda. Seperti Tjong A. Fei pada tahun 1880 yang menyusul
kakak – kakaknya dan sudah mendapatinya mempunyai pangkat Luitenant yaitu pangkat yang diberikan
pemerintah Hindia Belanda. Tjong A. Fei sendiri mendapat gelar Majoor dan meninggal pada tahun 1921.
Walaupun
etnis Tionghoa bukan merupakan penduduk asli pribumi, akan tetapi kehadiran
mereka di kota Medan akan sangat mudah kita tandai. Ini dapat dilihat melalui
bahasa sehari – hari yang mereka gunakan serta
rumah – rumah yang ada di jalan inti – inti kota Medan tempat tinggal
mereka yang juga sekaligus dijadikan sebagai tempat untuk membuka usahanya. Selain
itu mereka juga membentuk sebuah perkumpulan yang didasarkan dari mana suku
mereka berasal, seperti club Hokkian, club Kuan Tung dan lain-lain.
Pada
umumnya memang etnis Tionghoa yang berada di kota Medan kebanyakan membuka
usaha sebagai pedagang. Mereka dikenal sebagai pedagang yang sangat tekun dan
ulet dan juga memiliki hubungan yang baik dengan sesamanya.
No comments:
Post a Comment