Tuesday, 17 May 2016

KISAH KELINCI DAN SIPUT



Teringat tentang cerita dongeng yang bisanya di mulai dengan kalimat pada zaman dahulu kala atau dalam bahasa inggris yang saya pelajari “one upon a time”. Kali ini saya mengambil kisah tentang kelinci dan siput dalam hal perbedaan kecepatan.


Dalam hal kecepatan siput memang kalah jauh dengan kelinci. Dalam euphoria kemenangan kelinci kita mengambil kesimpulan bahwa “siapa yang cepat dia dapat”. Namun, yang kita bahas bukan hanya dari segi kemenangan kelinci saja. Yang dalam faktanya siput sudah pasti jauh di tinggalkan kelinci.


Mari kita lihat dari segi kekalahan siput. Siput memang dalam mencapai garis finis amat sangat lambat (kalimat ini sudah melampau batas karena dua kali penekanan yaitu amat dan sangat). Proses pencapaian siput ke garis finis yang harus kita kasi like. Ops... penulis terlalu cenderung mengikuti sosial media.


Diperjalanan menuju garis finis siput dalam berjalan selalu mengeluarka lendir yang berfungsi untuk mencengkram sehingga dia (si siput) bisa berjalan menggunakan ototnya. Lendir yang di keluarkan membekas pada jalan yang di lewati. Setau saya sifut tidak akan melewati jalan yang sama apabila lendir yang ditinggalkannya masih ada disitu (kebetulan sampung saya di daerah yang banyak siput nya).


Kelinci yang terlalu cepat mencapai garis finis tidak menikmati proses pencapaiannya. Berbanding terbalik dengan siput yang tidak mau melewatkan setiap apa yang dilihat dan dialami menuju garis finis tersebut. 

 
Makna yang dapat penulis bagi dalam kejadian kelinci dan siput ini, masalah yang sering dihadapi oleh sebahagian orang termasuk penulis sendiri. Sering kali kita mengeluh dalam perjalanan pencapaian tujuan. Sedangkan banyak orang yang belum tentu memiliki kesempatan seperti yang kita dapatkan.


Nikmatilah proses pencapaian itu, sebenarnya kehidupan asli yang kita alami setealah mencapai belum seberapa. Setelah mencapai garis finis masih banyak yang belum kita ketahui dan yang harus kita pelajari.


Modal utama dalam menjalani setelah garis finis itu adalah apa yang kita lewati dalam mencapai garis finis. Penulis juga pernah membaca sebuah buku yang berjudul “LA TAHZAN” saya tertarik pada syair yang ditulis :

apakah sama orang yang menghabiskan dua bulan purnama tanpa menutup mata dengan orang yang menghabiskan malam dengan tidurnya

Saya sebagai penulis sangat kagum dengan syair ini, disini sangat ditekankan prosesnya. Hasilnya akan berbanding lurus sama halnya dengan hukum newton yang pernah saya pelajari “F aksi = F reaksi”.


Alam pun mengajarkan kita untuk melalui proses, tidak ada pohon yang menghasilkan buah. Terlebih dahulu dia dari tunas sehingga menjadi pohon setelah melalui proses. Pohon itu pun akan berbuah dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Dalam proses tersebut menghasilkan buah yang manis dan bermanfaat bagi yang memakan-nya.


Nikmatilah proses, jangan mengeluh, jalan masih panjang, rencana tuhan pasti ada untuk hambanya, lakukan yang terbaik maka jadilah pohon yang berbuah manis dan bermanfaat bagi semua orang.

No comments:

Post a Comment

RECENT PUBLISHED

BAYANGAN

Berjalan di gang sempit Tatapan mata yang kosong diantara jalan yang terhimpit Terasa Sakit Di ikuti bayangan yang rumit Rumit .....

Recent Story

Translate

Back To Top